Kamis, 03 Oktober 2013

Aktivis Satwa Sesalkan Penembakan Macan Kumbang

MALANG, TRIBUNEKOMPAS.
By: Soewardi.

-Lembaga konservasi satwa liar, ProFauna Indonesia, menyesalkan tindakan polisi menembak mati macan kumbang (Panthera pardus) yang masuk ke kawasan permukiman warga di Sumbersuko, Lumajang, Rabu, 2 Oktober 2013. Menurut mereka, populasi macan kumbang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru diperkirakan tersisa kurang dari 10 ekor.

"Terlalu dini menembak mati macan," kata Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, Kamis, 3 Oktober 2013. Populasi harimau kumbang menurun akibat perburuan liar dan menyempitnya hutan di lereng Gunung Semeru. Rosek mengatakan polisi seharusnya bisa melumpuhkan macan tersebut dengan peluru bius sehingga bisa ditangkap hidup-hidup dan dikembalikan ke habitat aslinya.

Macan kumbang merupakan subspesies macan tutul Jawa yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa. Macan tutul memiliki dua variasi warna kulit, yaitu oranye tutul dan hitam. Adapun macan kumbang berwarna hitam.

Macan tutul merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Akibat kerusakan hutan dan penangkapan liar, populasinya di alam sangat terbatas. Macan tutul Jawa atau macan kumbang dinyatakan terancam punah sejak 2007.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan macan kumbang dalam daftar merah. Pemerintah Indonesia menetapkan satwa ini dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Hayati dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ayu Dewi Utari, menduga macan masuk perkampungan karena tersesat atau terlepas dari induknya. Persediaan pakan dan air di taman nasional itu melimpah, cukup untuk konsumsi macan selama musim kemarau. "Habitat tak ada masalah," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar