Kamis, 01 Agustus 2013

Guru MTs Diduga Aniaya Muridnya Sendiri

WONOGIRI, TRIBUNEKOMPAS.
By: Wiwik Priyanto.

- EP (35) oknum guru ketrampilan sebuah MTs (Madrasah Tsanawiyah) di Pracimantoro Wonogiri diadukan ke Komisi D DPRD Wonogiri (29/7). Pasalnya, EP diduga melakukan penganiayaan terhadap diri seorang muridnya kelas IX, SG (15).

Informasi yang berhasil dihimpun, penganiayaan terjadi pada Senin (22/7) pekan lalu. Berawal ketika EP mengatai SG dengan maksud bergurau. Namun, SG merasa tidak terima dan mengatakan EP sok tahu. Selanjutnya EP memukul SG dan membuatnya merasa pusing, mual, dan muntah.

" Menurut cerita orangtuanya SG, guru ini melakukan pemukulan. Akibatnya murid itu harus dirawat di rumah sakit. Orangtua korban datang dengan beberapa orang LSM Maki, " kata Sriyono, Ketua Komisi D DPRD Wonogiri.

Joko Santoso, orang tua SG yang mengadukan hal itu ke dirinya. Dan masih menurut Joko, SG sempat dibawa ke Rumas Sakit Maguan Husada Pracimantoro. Namun, lantaran lukanya dianggap serius, akhirnya dirujuk ke RSUD Soediran Mangun Sumarso (RSUD SMS) Wonogiri.

Sriyono selanjutnya mengatakan, akan mengkonfirmasi aduan itu ke pihak sekolah dalam waktu dekat. " Harus dikonfirmasi dulu ke sekolah. Apakah kejadiannya memang seperti itu atau tidak," ujarnya.

Kasus dugaan penganiayaan di MTs (Madrasah Tsanawiyah) Sudirman Pracimantoro Wonogiri membuat korban SG menjadi ketakutan. Sementara pihak madrasah mengakui perbuatan itu memang dilakukan salah satu guru fiqih dan ketrampilan EP.

Dijumpai di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri, kemarin, Kepala MTs Sudirman, Himawan didampingi  Wakasek Humas Joko menceritakan kronologis kejadian penganiayaan tersebut. " Senin tanggal 22 Juli berawal dari kegiatan pesantren dengan materi soal junub atau bersuci. Materi itu meliputi bahwa penyebab junub salah satunya adalah onani atau istilahnya nyabun. Dan dicontohkan bahwa SG sering nyabun, " ujar Himawan.

Kemungkinan merasa tidak terima, SG kemudian menjawab EP sok tahu. Kemudian SG didatangi dan dipukul dengan punggung tangan kanan pada pipi kanan. Selanjutnya EP disuruh keluar menuju ruang perpustakaan.

" Tapi si anak itu malah menangis selanjutnya dipulangkan saja. Dua hari berikutnya dia tidak masuk dan baru pada hari Kamis kami tahu kalau dia sakit. Jum'atnya kami bawa ke Rumah Sakit Maguan Husada. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kami bawa ke RSUD SMS, " terang dia.

Joko menambahkan, pihak madrasah tidak mengetahui kenapa keluarga mengadu ke Komisi D DPRD setempat. Madrasah mengetahuinya setelah berita tersebar melalui media massa.

Terpisah, orangtua SG, Joko Santoso mengatakan, sejak kejadian penganiayaan itu SG menjadi ketakutan. Bahkan ada kemungkinan tidak mau lagi melanjutkan pendidikan di MTs Sudirman Pracimantoro. Kasus itu sudah dilaporkan ke Mapolsek Pracimantoro.

Sedang, Kapolsek Pracimantoro AKP Kasimin membenarkan telah menerima laporan tersebut. Hingga hari ini pihaknya masih meminta keterangan dari para saksi. Sementara ada 3 saksi yang diperiksa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar